Menginspirasi Santri Asal Jatiyoso Karanganyar Sabet Penghargaan Internasional di Tiga Negara ASEAN

KARANGANYAR – Prestasi membanggakan kembali lahir dari rahim bumi Intanpari. M. Nur Wafa Lutfi, seorang putra daerah asal Desa Wonorejo, Kecamatan Jatiyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, berhasil membuktikan bahwa tinggal di lereng gunung bukan batasan untuk menaklukkan panggung dunia. Ia sukses membawa pulang penghargaan bergengsi dari ajang International Conference Santri Mendunia (ICSM) Batch 5 yang digelar di tiga negara sekaligus: Malaysia, Singapura, dan Thailand pada 6–12 Mei 2026.

Santri dari Pondok Pesantren Edi Mancoro sekaligus mahasiswa Program Magister UIN Salatiga ini sukses meraih penghargaan “The 2nd Best Group” bersama tim delegasinya. Penghargaan ini diraih berkat kemampuan kolaborasi, argumentasi, dan diplomasi akademik yang memukau selama forum internasional berlangsung.

Foto : istimewa

Membawa Gagasan Pendidikan Islam Abad 21

Sebagai penerima Beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), pemuda yang akrab disapa Wafa ini tidak sekadar hadir sebagai peserta. Di hadapan para santri, mahasiswa, akademisi, dan praktisi pendidikan dari berbagai negara, ia mempresentasikan sebuah gagasan bertajuk:

“Traditional Religious Education and Openness to Global Innovation in Brunei Darussalam.”

Melalui presentasi tersebut, Wafa menyoroti pentingnya lembaga pendidikan Islam tradisional (seperti pesantren dan sistem boarding school) untuk mulai membuka diri terhadap inovasi global, perkembangan teknologi, literasi digital, serta metode pedagogis modern. Menurutnya, adaptasi ini sangat krusial agar pendidikan agama tetap relevan menghadapi tantangan abad ke-21 tanpa harus kehilangan identitas dan prinsip fundamental keislamannya.

Pengalaman Berharga di Panggung Global

Selain berdiskusi di forum akademik, Wafa dan para delegasi lainnya juga mengikuti serangkaian agenda berbobot. Mulai dari scientific paper presentation, kunjungan universitas top dunia seperti National University of Singapore (NUS) dan International Islamic University Malaysia (IIUM), hingga tur religi di tiga negara ASEAN.

Kerja kerasnya di forum ini diganjar dua sertifikat penghargaan sekaligus:

  • Certificate of Appreciation atas kontribusi personal dan partisipasi aktifnya selama kegiatan berlangsung.
  • Sertifikat Penghargaan Kolektif yang menetapkan kelompok delegasinya sebagai pemenang “The 2nd Best Group”.


Apresiasi dan Harapan untuk Pemuda Karanganyar

Keberhasilan ini tentu menjadi oase prestasi dan kebanggaan bagi keluarga besar Pondok Pesantren Edi Mancoro, UIN Salatiga, serta masyarakat Kabupaten Karanganyar. Wafa pun tidak lupa menyampaikan rasa syukur dan terima kasihnya kepada Pemerintah Kabupaten Karanganyar, khususnya Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Karanganyar, yang telah memberikan sokongan moral maupun material.

"Saya mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Karanganyar, khususnya Baznas Karanganyar, atas dukungan, motivasi, serta bantuan yang telah diberikan. Saya berharap ilmu, pengalaman, dan jejaring internasional yang saya peroleh dapat menjadi bekal untuk kembali berkontribusi dan memberikan manfaat nyata bagi Kabupaten Karanganyar," ungkap Wafa penuh syukur.

Kisah Wafa dari lereng Gunung Lawu menuju panggung ASEAN ini menjadi bukti nyata bahwa keterbatasan geografis ataupun asal desa pelosok bukanlah penghalang untuk bersaing di tingkat internasional. Semoga prestasi ini mampu memotivasi para santri dan generasi muda lainnya di Indonesia agar terus berani bermimpi dan meningkatkan kapasitas diri!

1 komentar untuk "Menginspirasi Santri Asal Jatiyoso Karanganyar Sabet Penghargaan Internasional di Tiga Negara ASEAN"

  1. Semoga tambah Bersyukur Mas Wafa, berkarya terus untuk memajukan bangsa lewat pendidikan dan pesantren

    BalasHapus