Naik Pesawat Terbang Menuju Husnul Khotimah By Mas Wantik

Pertama kali saya naik pesawat terbang tahun 1999. Rute Surabaya - Palangkaraya. Pakai Mandala Airlines. Karena tuntutan pekerjaan, mulai tahun 2002 lebih sering naik pesawat. Sampai ke luar negeri juga.

Saya yakin semua orang yang sering naik pesawat, pasti pernah mengalami saat-saat yang tidak nyaman. Salah satunya turbulensi karena cuaca buruk. Takut? Pasti. Manusiawi. Apalagi setelah ada kejadian kecelakaan pesawat terbang seperti saat ini. Sedikit banyak pasti ada perasaan nggak nyaman saat terbang.

Dari sekian kali naik pesawat, paling tidak 2 kali saya mengalami saat-saat yang amat menegangkan. Pertama, saat terbang dari Jepang menuju Singapura. Tahun 2012. Terbang di malam hari. Sepanjang penerbangan dihadang cuaca buruk. Sambaran kilat dan turbulensinya sangat keras.

Lainnya saat terbang dari Jakarta ke Solo. Lebih menengangkan. Turbulensinya sangat keras. Rasanya seperti dibanting. Banyak penumpang yang menangis histeris. Lainnya terdiam. Pasrah. Sambil berdoa.

Apakah lantas kapok naik pesawat? Tidak juga. Alhamdulillah saya bisa berdamai dengan rasa takut tersebut.

Mengapa harus takut? Jika Allah sudah berkehendak, apakah kita mampu menghindarinya? Apakah naik pesawat jadi satu-satunya penyebab kematian? Di rumah. Di kantor. Di manapun kematian bisa menghampiri kita.

Demikian juga sebaliknya. Jika Allah belum berkehendak kita dipanggilNya, maka siapapun tak dapat menghadirkan kematian tersebut.

Selama bepergian. Ke mana saja. Naik apa saja. Mestinya tidak perlu takut yang berlebih. Sepanjang niat bepergian kita baik. Untuk bekerja. Untuk belajar. Silaturahim. Itu semua bernilai ibadah.

Layak untuk takut apabila bepergian kita untuk maksiat. Untuk melakukan hal yang dimurkai Allah.

Meninggal saat bekerja syahid. Itu mulia. Dia bepergian untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Untuk menjalankan amanah yang baik. Fikiran-fikiran seperti itu perlu terus dibangun. Agar hati kita tenang. Bahkan bisa menikmati perjalanan kita.

Saat bepergian, khususnya naik pesawat. Saya punya kebiasaan tersendiri. Saya sudah terbiasa dengan menggantung wudlu. Artinya saya masih punya wudlu. Belum batal.

Pakaianpun khusus. Tidak asal. Biasanya saya pakai baju lengan panjang. Atau sweater lengan panjang.

Tujuannya agar saat tangan bersenggolan dengan penumpang lain. Wudlu saya masih aman.

Saya sudah menyiapkan diri. Jikalau hari itu adalah hari kematian saya. Sudah siap.

Ya. Walaupun pesawat terbang adalah moda transportasi paling aman jika dibandingkan dengan kendaraan darat dan laut. Namun begitu terjadi kecelakaan resikonya bisa amat fatal.

Saat terbang, saya jarang menghabiskan waktu di udara untuk ngobrol. Kecuali kalau sedang terbang dengan rekan kantor atau teman yang sudah saya kenal.

Jika terbang dari Solo ke Jakarta atau sebaliknya di pagi hari, biasa saya pakai sholat dhuha. Bisa sampai 8 rekaat. Ditambah wiridan dan doa. Tahu-tahu sudah saatnya mendarat.

Demikian juga saat terbang siang atau malam hari. Pilihannya adalah sholat. Tilawah. Wiridan. Atau sekedar baca-baca buku dengan tema religi yang sudah saya siapkan sebelumnya.

Bukankah setiap hari kita berdoa untuk diberi husnul khotimah? Akhir yang baik. Bukankah husnul khotimah tak cukup hanya dengan doa saja?

Saya berdoa. Jika memang takdir saya harus menghadap Allah saat terbang. Saya berharap saat itu adalah akhir yang baik. Yang terakhir kali saya lakukan adalah hal baik. Yang terakhir kali keluar dari mulut saya adalah baik. Bahkan ada barang bukti yang baik. (Mas Wantik)

Mas Wantik

Belum ada Komentar untuk "Naik Pesawat Terbang Menuju Husnul Khotimah By Mas Wantik"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel atas

Iklan dalam artikel

Iklan Bawah Artikel